Serta merta, aku tanya kepada Kei (nama panggilan kekasihku), "Masih 20 orang lagi. Bagaimana?"
Dengan mata terkantuk, dia menjawab, "Besok subuh-subuh saja ya aku kirim?"
Nggak tega lihat mata ngantuknya, aku pun menyetujuinya.
--
"Guk...guk...guk..." Bunyi dering telepon genggam membangunkanku. Oh iya, subuh ini Kei mau mengantarkan paketku.
Masih seperti zombie berjalan, oleng, aku buka pintu dan Kei pun mengeluarkan motornya (--lain ceritanya).
"Kamu mau dibelikan sarapan apa?" Tanya Kei sambil mencium keningku.
"Mie ayam!" Ucapku semangat. Sudah hampir sebulan aku merindukan sarapan mie ayam. Hehehe.
Setelah Kei berangkat untuk mengantar, aku pun kembali ke dalam rumah. Sebelum ke kamar, kubuatkan dulu segelas susu panas untuk oma. Biasanya dia pagi-pagi sudah lapar.
Kubawakan susu panas itun, dan kulihat oma sudah duduk di ranjangnya, terbangun.
Dia menatap tanpa ekspresi. Biasa saja sambil menerima gelas susu panas dariku.
Setelah meminum beberapa teguk susu coklat tersebut, oma minta agar perutnya dibalurkan minyak kayu putih.
Lalu ia kembali terdiam.
Aku coba menawarkan pisang rebus, biskuit kepadanya. Ia hanya menggeleng.
Lalu kutawarkan biskuit gandum pemberian temannya. Ia diam. Ok, ini berarti mungkin mau.
Kuambil biskuitnya sambil kubilang bahwa biskuit ini baik untuk lambung.
Tanpa menolak, thanks GOD, ia menyantap sekeping biskuit gandum.
Sembari ia makan, kusetelkan tv saluran mandarin. Ya kali saja dia bisa sedikit terhibur.
(Biasanya kalau tv saluran lain, ia suka capek baca subtitlenya)
Namun ternyata ia masih mengantuk. Sembari duduk dan mengunyah, matanya menutup. Rupanya ia letih ingin kembali tidur.
Tidak lama selesai aku mandi, bel pintu berbunyi. Kei kembali membawa 2 bungkusan makanan. Aku pun dan Kei sarapan di ruang makan.
Namun saat aku mencuci tangan seusai makan, kudengar oma memanggilku. Ia mau ke toilet dan harus dituntun.
Selesai dari toilet, nafasnya kembali tersengal seperti orang habis marathon ratusan kilometer.
Ia pun memintaku untuk mengerok pundak dan lehernya. Sebuah "terapi" bagi tubuhnya.
Tak lama, ia mengingatkanku agar tak lupa mengecek gula darahnya. Pagi ini dia akan masuk ruang operasi untuk pembuangan air di paru-parunya. Kadar gula darahnya tidak boleh tinggi.
Ternyata malah turun. Hanya 88 dari skala normal 120.
Sebelum berangkat, kutitipkan pesan pada tante agar tidak langsung diberi makanan manis agar tidak mendadak naik. Biar naik perlahan saja dengan sarapan seperti biasa, 2 sendok nasi dan kuah bakso.
--
Pagi ini saat kumenunggu pintu kantor dibuka, di depan air mancur, kutitipkan doa untuknya.
Agar operasi hari ini lancar dan oma bisa kembali sehat. Seperti dulu lagi.
Bersyukurlah jika kau masih bisa membaca ini! God is good, everytime!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar