Kamis, 29 September 2011

(Seri Perempuan Tangguh) Day 2

Kadar hemoglobin atau hb dalam darahnya harus ditambah. Dia harus ditransfusi esok harinya, begitu instruksi dokter.
Aku, tante dan adikku langsung sibuk mengkoordinasikan siapa yang jaga. Awalnya, aku yang diminta, tapi setelah itu tanteku saja.
Namun karena mendadak kondisi ayahku drop, adikku harus pulang ke rumah, jadilah aku diminta ke RS untuk menggantikan tante sebelum adikku datang.
Setelah menempuh sekitar 15 menit berjalan kaki di bawah mentari yang terik dan 15 menit kesulitan berdiri di bis, aku menerima telepon bahwa aku tidak perlu datang. Huaaaa! Aku harus kembali padahal jarak ke RS tinggal 1 halte saja.
Aku sedikit berharap seharusnya aku saja yang menemani oma transfusi darah.
--
Sepulang dari kantor, oma kutemui dalam kondisi sedikit drop. Asmanya kambuh hingga dia sedikit lelah bahkan untuk bernafaspun.
Dia bertanya padaku mengapa sesudah ditransfusi, malah asmanya kambuh. Aku hanya berkata, "mungkin emak kecapekan,"

Aku ingat "petualangan" kami setiap saat ditransfusi.
Mulai diomelin suster, nggak kebagian kamar, nggak kebagian ranjang, kena reaksi alergi, didatangi banyak calon suster (magang) sampai nonton serial korea bareng.
Bahkan sempat beberapa kali "ditolak" dengan alasan belum konsultasi dengan dokter.
Namun lucunya, oma selalu semangat setiap mau ke RS.
Pagi-pagi sudah sibuk mengingatkanku untuk mendaftar dulu, lalu sibuk beberes barang bawaannya.
Bahkan sampai pagi tadi pun, oma masih saja sama. Tetap semangat. Tetap tak lupa mengingatkanku.
Bersyukurlah jika kau masih bisa membaca ini! God is good, everytime!

(Seri Perempuan Tangguh) Day 1 - Malam

Sepulangku kerja, hal pertama yang kutanyakan adalah, "Mak, gimana diambil airnya?"
Oma yang sedang terkantuk-kantuk karena dipijat Iyem langsung mendadak segar. Ups, maaf :(
Dia pun langsung bercerita pengalamannya tadi pagi sampai siang di rumah sakit.
Bagaimana sakit punggungnya saat disuntik jarum untuk menyedot air yang ada di paru-parunya. Bagaimana sulitnya para perawat mencari pembuluh darahnya saat harus pengambilan sampel darah. Bagaimana adikku, Rio, memecahkan gelas air untuk tabung oksigennya saat hendak berangkat. Juga bagaimana kondisinya setelah air diparu-parunya disedot.
Kulihat matanya berbinar saat bercerita. Tak kulihat semua penyakitnya, hanya semangatnya untuk menikmati hidup dan perjalanannya.
Sebuah harapan untuk hari esok...
Bersyukurlah jika kau masih bisa membaca ini! God is good, everytime!

Senin, 26 September 2011

(Seri Wanita Tangguh) Day 2 - Pagi

Sekitar pukul 8.30 malam aku tiba di kantor pengiriman. Namun saat mengambil nomor antrian, ternyata masih ada 20 orang lagi di depanku. :(
Serta merta, aku tanya kepada Kei (nama panggilan kekasihku), "Masih 20 orang lagi. Bagaimana?"
Dengan mata terkantuk, dia menjawab, "Besok subuh-subuh saja ya aku kirim?"
Nggak tega lihat mata ngantuknya, aku pun menyetujuinya.
--
"Guk...guk...guk..." Bunyi dering telepon genggam membangunkanku. Oh iya, subuh ini Kei mau mengantarkan paketku.
Masih seperti zombie berjalan, oleng, aku buka pintu dan Kei pun mengeluarkan motornya (--lain ceritanya).
"Kamu mau dibelikan sarapan apa?" Tanya Kei sambil mencium keningku.
"Mie ayam!" Ucapku semangat. Sudah hampir sebulan aku merindukan sarapan mie ayam. Hehehe.
Setelah Kei berangkat untuk mengantar, aku pun kembali ke dalam rumah. Sebelum ke kamar, kubuatkan dulu segelas susu panas untuk oma. Biasanya dia pagi-pagi sudah lapar.
Kubawakan susu panas itun, dan kulihat oma sudah duduk di ranjangnya, terbangun.
Dia menatap tanpa ekspresi. Biasa saja sambil menerima gelas susu panas dariku.
Setelah meminum beberapa teguk susu coklat tersebut, oma minta agar perutnya dibalurkan minyak kayu putih.
Lalu ia kembali terdiam.

Aku coba menawarkan pisang rebus, biskuit kepadanya. Ia hanya menggeleng.
Lalu kutawarkan biskuit gandum pemberian temannya. Ia diam. Ok, ini berarti mungkin mau.
Kuambil biskuitnya sambil kubilang bahwa biskuit ini baik untuk lambung.
Tanpa menolak, thanks GOD, ia menyantap sekeping biskuit gandum.
Sembari ia makan, kusetelkan tv saluran mandarin. Ya kali saja dia bisa sedikit terhibur.
(Biasanya kalau tv saluran lain, ia suka capek baca subtitlenya)
Namun ternyata ia masih mengantuk. Sembari duduk dan mengunyah, matanya menutup. Rupanya ia letih ingin kembali tidur.

Tidak lama selesai aku mandi, bel pintu berbunyi. Kei kembali membawa 2 bungkusan makanan. Aku pun dan Kei sarapan di ruang makan.

Namun saat aku mencuci tangan seusai makan, kudengar oma memanggilku. Ia mau ke toilet dan harus dituntun.
Selesai dari toilet, nafasnya kembali tersengal seperti orang habis marathon ratusan kilometer.
Ia pun memintaku untuk mengerok pundak dan lehernya. Sebuah "terapi" bagi tubuhnya.
Tak lama, ia mengingatkanku agar tak lupa mengecek gula darahnya. Pagi ini dia akan masuk ruang operasi untuk pembuangan air di paru-parunya. Kadar gula darahnya tidak boleh tinggi.
Ternyata malah turun. Hanya 88 dari skala normal 120.
Sebelum berangkat, kutitipkan pesan pada tante agar tidak langsung diberi makanan manis agar tidak mendadak naik. Biar naik perlahan saja dengan sarapan seperti biasa, 2 sendok nasi dan kuah bakso.
--
Pagi ini saat kumenunggu pintu kantor dibuka, di depan air mancur, kutitipkan doa untuknya.
Agar operasi hari ini lancar dan oma bisa kembali sehat. Seperti dulu lagi.
Bersyukurlah jika kau masih bisa membaca ini! God is good, everytime!

(Seri Perempuan Tangguh) Day 1

Seperti malam-malam sebelumnya, kondisinya masih sama saja. Selang oksigen setia menemani kedua lubang hidungnya bersama deretan obat yang menanti giliran.
Paru-parunya yang terendam air membuatnya sulit untuk bernafas.

Kali ini tiba-tiba ia terbangun dari tidurnya, duduk, lalu meminta kami untuk menuntunnya ke kamar mandi. Ia ingin ke toilet.
Setelah dari toilet pun, ia tidak bisa serta merta langsung pulas tidur.
Ia lelah setelah berjalan 5 langkah pp ranjang - toilet.
Ia harus duduk sejenak, mencari ritme nafas yang sedikit melegakan, baru ia merebahkan tubuhnya.

Namun, tak lama setelah rebah, ia kembali duduk. Ia minta sepotong pisang, seteguk air putih, dan seteguk susu hangat. Ia lapar rupanya.
Sambil ia menikmati susu hangatnya, aku menyetel kaset self healing.

Sebenarnya bukan maksud agar ia melakukan rutinitas self healing, hanya agar musik instrumennya bisa menenangkan dia dan membuat ia bisa tertidur.
Namun bukan tertidur, rupanya 5 menit kemudian, ia melakukan self healing.
Sebuah keinginan besar untuk kembali sembuh muncul, seakan menyemangatinya diam-diam. Memberinya tenaga dan energi untuk bermeditasi. Walau hanya untuk 1 jam saja.
(Ini adalah kedua kalinya terjadi, walau tak berarti setiap aku setel ia pasti self healing.)

Ia bukanlah wanita yang sempurna.
Ia memang pernah putus asa.
Namun ia selalu saja menemukan cara kembali bangkit.
Aku diam-diam mengaguminya...wanita tangguh...

Bersyukurlah jika kau masih bisa membaca ini! God is good, everytime!