Kadar hemoglobin atau hb dalam darahnya harus ditambah. Dia harus ditransfusi esok harinya, begitu instruksi dokter.
Aku, tante dan adikku langsung sibuk mengkoordinasikan siapa yang jaga. Awalnya, aku yang diminta, tapi setelah itu tanteku saja.
Namun karena mendadak kondisi ayahku drop, adikku harus pulang ke rumah, jadilah aku diminta ke RS untuk menggantikan tante sebelum adikku datang.
Setelah menempuh sekitar 15 menit berjalan kaki di bawah mentari yang terik dan 15 menit kesulitan berdiri di bis, aku menerima telepon bahwa aku tidak perlu datang. Huaaaa! Aku harus kembali padahal jarak ke RS tinggal 1 halte saja.
Aku sedikit berharap seharusnya aku saja yang menemani oma transfusi darah.
--
Sepulang dari kantor, oma kutemui dalam kondisi sedikit drop. Asmanya kambuh hingga dia sedikit lelah bahkan untuk bernafaspun.
Dia bertanya padaku mengapa sesudah ditransfusi, malah asmanya kambuh. Aku hanya berkata, "mungkin emak kecapekan,"
Aku ingat "petualangan" kami setiap saat ditransfusi.
Mulai diomelin suster, nggak kebagian kamar, nggak kebagian ranjang, kena reaksi alergi, didatangi banyak calon suster (magang) sampai nonton serial korea bareng.
Bahkan sempat beberapa kali "ditolak" dengan alasan belum konsultasi dengan dokter.
Namun lucunya, oma selalu semangat setiap mau ke RS.
Pagi-pagi sudah sibuk mengingatkanku untuk mendaftar dulu, lalu sibuk beberes barang bawaannya.
Bahkan sampai pagi tadi pun, oma masih saja sama. Tetap semangat. Tetap tak lupa mengingatkanku.
Bersyukurlah jika kau masih bisa membaca ini! God is good, everytime!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar